Jawharoh at-Tawhid : Kajian Lafazh Basmalah


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Mu'allif Rohimahullôh memulai nazhm-nya dengan basmalah kemudian hamdalah, karena mengikuti al-Qur'an al-Karim yang secara tertib susunannya diawali dengan keduanya. Syaykh Abû Bakar at-Tûnisiy mengemumakakan adanya ijmâ' (konsensus) bahwa Alloh Subhânahu wa ta'âlâ mengawali seluruh kitab-Nya dengan basmalah.

Di samping itu, Nabi Muhammad Shollallôhu 'alayhi wa sallam bersabda:


كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر أو أجذم، أو أقطع

Setiap perkara yang mengandung kebaikan tidak diawali dengan bismillahir rohmanir rohim maka itu adalah abtar, ajdzam, atau aqtho'.

Yakni setiap kebaikan yang tidak diawali dengan basmalah kurang berkah dan sedikit keberkahannya. Walaupun secara lahir terlihat sempurna, tetapi cacat secara ma'nawi.
Hadits ini menjelaskan, bahwa setiap perkara yang dinilai penting oleh syara', baik ucapan maupun perbuatan, harus diawali dengan basmalah supaya dipenuhi dengan keberkahan dari Alloh Subhânahu wa ta'âlâ. Namun ada beberapa hal yang tidak perlu diawali dengan basmalah, yaitu:

1. Perbuatan yang dipandang hina, seperti ketika memakai sandal, meludah dan mengeluarkan dahak.

2. Perbuatan yang berstatus hukum haram li dzâtih (haram karena dzat pekerjânnya), seperti zina, dan makruh li dzâtih seperti melihat kemaluan istri tanpa adanya hajat (kebutuhan). Perbuatan haram li dzâtihi maka haram diawali dengan basmalah, sedangkan perbuatan makruh li dzâtihi, hukumnya makruh diawali dengan basmâh. Adapun perbuatan haram li 'âridh (karena faktor eksternal) seperti berwudhu dengan air hasil ghoshb, dan makruh li 'âridh seperti memakan bawang, maka tetap disunnahkan membaca basmalah.

3. Dzikir murni, yaitu lafazh-lafazh yang tidak memiliki pengertian lain selain dzikir, seperti kalimah thoyyibah, lâ ilâha illallôh. Adapun dzikir yang tidak murni seperti membaca al-Qur'an, hadits, dan nasihat, maka tetap disunnahkan membaca basmalah.

4. Perbuatan yang oleh syara' diawali dengan selain basmalah, seperti sholat yang diawali dengan takbîroh al-ihrôm.

Ditinjau dari segi isyaroh, "ba" dalam lafazh bismillah bermakna:

بي كان ما كان، وبي يكون ما يكون

"dengan kekuasân-Ku, sesuatu yang ada itu terjadi.Dengan kekuasân-Ku, sesuatu yang akan ada itu akan terjadi"

Dengan makna ini, "ba" dalam basmalah mengandung isyarah terhadap seluruh aqidah, karena kemampuan menciptakan secara hakiki hanya dimiliki oleh dzat yang mempunyai sifat-sifat kesempurnân dan terhindar dari sifat-sifat kekurangan.

Lafazh "Alloh" menurut jumhur (mayoritas) ulama adalah al-ism al-a'zhom, apabila seseorang berdo'a dengan menyebut nama Alloh, maka akan dîjabah oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun tidak dîjabahnya do'a yang menggunakan al-ism al-a'zhom, disebabkan tidak terpenuhinya syarat-syarat dalam berdo'a terutama halalnya makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Wall ôhu a’lam bish showâb
ــــــــــــــــــــــــــــــــ
Referensi:
1. Jawharoh at-Tawhîd
2. Tuhfah al-Murîd
3. Taqrîb al-Ba’îd
FB Comments
0 Blogger Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...