Qiyamul Lail

قال النبي صلى الله عليه وسلم: «يحشر الناس في صعيد واحد يوم القيامة، فينادي مناد فيقول: أين الذين كانوا تتجافى جنوبهم عن المضاجع، فيقومون وهم قليل، فيدخلون الجنة بغير حساب، ثم يؤمر بسائر الناس إلى الحساب».  إه
Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Pada hari kiamat manusia dikumpulkan pada satu tempat, kemudian ada suara yang memanggil: 'di mana orang-orang yang merenggangkan tubuhnya dari tempat tidur (melaksanakan qiyamul lail)', maka berdirilah orang-orang tersebut, jumlah mereka hanya sedikit, kemudian mereka masuk ke dalam surga tanpa melalui hisab. Kemudian orang-orang yang lain diperintahkan menuju hisab.

وكان سيدي أحمد الرفاعي رحمه الله تعالى يقول لأصحابه: "عليكم بالقيام في الثلث الأخر من الليل ولا تفرِّطوا في ذلك، فإنه ما من ليلة من ليالي السنة إلا وينزل فيها رزق من السماء، فيفرّق على المستيقظين ويحرم منه النائمون". إه
Sayyid Ahmad ar-Rifa'i rohimahulloh berkata kepada para sahabatnya: Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail pada sepertiga malam yang terakhir, janganlah kalian menyepelekannya, sesungguhnya sepanjang tahun Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan rizki pada setiap malam. Orang-orang yang terjaga akan mendapatkan bagian, dan orang-orang yang tidur akan terhalang.

وقد أوحى الله تعالى إلى السيد داود عليه الصلاة والسلام: «يا داود كذب من ادّعى محبتي، فإذا جن الليل نام عني»
Alloh Subhanahu Wa ta'ala memberikan wahyu kepada Nabi Dawud 'alaihis salam: "Wahai Dawud, Orang yang mengaku cinta kepadaku itu telah berdusta, karena ia tidur melupakanku pada tengah malam.

فقد ورد أن أم السيد سليمان عليه السلام قالت: "يا بني لا تترك قيام الليل، فإن ترك قيام الليل يدع الرجل فقيرا يوم القيامة
Diriwayatkan bahwa ibunda Nabi Sulaiman 'alaihis salam berkata: Anakku, janganlah kamu meninggalkan qiyamul lail. Sesungguhnya meninggalkan qiyamul lail akan menjadikan seseorang fakir pada hari kiamat.
[al-Minah as-Saniyyah hal. 11-12]

Kurikulum dan Pembelajaran

METODE PEMBELAJARAN

Sebagai pesantren salafiyah, Pesantren Darush Showab menjadikan kitab kuning sebagai kajian utama. Para alumni lulusan Pesantren Darush Showab diharapkan mampu membaca, menterjemahkan, memaknai, mengamalkan serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan agama Islam yang pada hakikatnya bersumber dari kitab suci al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh Muhammad SAW. Di samping itu, para santri juga diperkenalkan pada beberapa disiplin ilmu sosial, wawasan teknologi dan kebangsaan. Dengan dukungan ini, para santri diharapkan menjadi pribadi yang arif, santun, berwawasan ke depan (visioner) sehingga mudah diterima di tengah-tengah masyarakat.

Metode pembelajaran yang digunakan adalah bandongan, sorogan, setoran, hapalan dan klasikal.

Bandongan

Bandongan adalah pola pengajaran dengan kitab atau materi tertentu yang disampaikan oleh ustadz dengan pendekatan seramah. Ustadz menterjemahkan kitab sementara para santri menulis terjemahan tersebut pada kitab masing-masing. Kemudian ustadz menjelaskan kandungan materi yang dibahas dan diakhiri dengan tanya jawab dan refleksi. 

Sorogan dan Setoran

Sorogan adalah metode pengajian individual di mana santri mengikuti bacaan kitab dan terjemahannya yang  dibimbing oleh ustadz. Dengan sorogan, santri membiasakan diri membaca kitab, menerapkan keterampilan nahwu dan shorof yang didapatkan dari pengajian bandongan dan klasikal serta memperkaya diri dengan kosakata (mufrodat, vocabulary) bahasa Arab.

Hasil sorogan kemudian dibacakan secara individual kepada ustadz dalam pengajian setoran. Dengan metode setoran, kemampuan para santri dalam menyerap materi ajar akan terukur dan berkesinambungan.

Klasikal

Pada metode klasikal, para santri di kelompokkan ke dalam beberapa kelas sesuai dengan kemampuan rata-rata. Penguasaan materi yang diajarkan pada pengajian  klasikal digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian keberhasilan setiap santri serta menentukan kenaikan kelas ke jenjang yang lebih tinggi.

Hapalan

Materi yang wajib dihapal oleh santri meliputi materi kitab nahwu, shorof, do’a, ayat al-Qur’an dan dzikir tertentu yang berlaku dalam ubudiyah keseharian. Di samping itu, para santri dengan kemampuan dan minat khusus juga mengikuti hapalan ayat suci al-Qur’an (tahfizh al-Qur’an).


KITAB KAJIAN

Al-Qur'an dan Tafsir
1. Al-Qur’an al-Karim
2. Tafsir Jalalain

Hadits
1. Mukhtar al-Ahadits an-Nabawiyyah
2. Riyadh ash-Sholihin
3. Bulugh al-Marom

Tauhid
1. Tijan ad-Daruri
2. Kifayah al-‘Awam
3. Jauharoh at-Tauhid

Fiqih
1. Safinah an-Naja
2. Taqrib (Matan Abi Syuja’)
3. Fath al-Qorib al-Mujib
4. Fath al-Mu’in
5. Kifayah al-Akhyar
5. Minhaj ath-Tholibin
6. Al-Asybah wa an-Nazho’ir
7. Bidayah al-Mujtahid

Akhlak-Tashawuf
1. Risalah al-Mu’awanah
2. Bidayah al-Hidayah
3. Kifayah al-Atqiya
4. Adab Suluk al-Murid
5. Minhajul ‘Abidin
6. Ta’lim al-Muta’allim

Nahwu-Shorof
1. Jurumiyah
2. Fathu Robb al-Bariyyah (Imrithi)
3. Nazhm al-Maqshud (Yaqulu)
4. Kailani
5. Khoridah al-Bahiyyah
6. Alfiyah

Bidang Lain
1. Madarij ash-Shu’ud
2. Khulashoh Nurul Yaqin
3. Masa’il Fiqhiyyah

Sejarah Pesantren Darush Showab

Pesantren Darush Showab didirikan pada tahun 1940 oleh al-Maghfurlah Abuya K.H. Ahmad Damiri, seorang abituren pesantren yang memiliki himmah keagamaan yang tinggi disertai dengan penguasaan ilmu keagamaan yang mumpuni. Bangunan pesantren menempati sebidang tanah wakaf dari Embah Le’ah Binti Makun (Nenek Abuya) yang berlokasi di kampung Babakan Ciawi Desa Nagasari Kecamatan Serang Baru Kabupaten Bekasi Jawa Barat.

Kesungguhan dan keistiqomahan Abuya dalam mengembangkan ilmu agama mendapat respons positif dari masyarakat, sehingga Pesantren Darush Showab menjadi salah satu rujukan dan tujuan para santri dalam menimba ilmu agama. Hal ini terlihat dari tersebarnya para alumni pesantren yang membuka pondok pesantren dan pengajian khususnya di wilayah Bekasi dan Bogor. Tidak sedikit pula para tokoh masyarakat dan pemerintahan yang pernah mondok di pesantren ini.

Tercatat beberapa kyai yang pernah berjuang bersama Abuya dalam menghidupkan pendidikan dan menyebarkan ilmu pengetahuan agama (nasyr al-ilmi), diantaranya al-Maghfurlah K.H. Utsman (putera Abuya), al-Maghfurlah K.H. Hasan Djuwaeni Aladip (menantu Abuya) yang kemudian mendirikan Pondok Pesantren Darul Mu’allamah di Pasir Kupang, al-Maghfurlah Mama K.H. Syuja’i dan al-Maghfurlah K.H. Hambali Ahmad.

Pada tahun 1994, Abuya mengalami sakit, sehingga pengelolaan pesantren diselenggarakan oleh putera beliau yaitu K.H. Hambali Ahmad. Abuya K.H. Ahmad Damiri meninggal pada tahun 1997.

Pada tahun 2001, K.H. Hambali Ahmad tutup usia, Pesantren Darush Showab yang ditinggalkannya kemudian dikelola oleh adik beliau yaitu K.H. Saepudin.

Pada perkembangan berikutnya, mulai tahun 2004 Pondok Pesantren Darush Showab dipimpin oleh K.H. Saepudin sebagai sesepuh dan penasehat pesantren, K.H. Hasan Basri Hambali (Putera K.H. Hambali Ahmad) sebagai pengasuh pesantren, dan dibantu oleh beberapa staf pengajar.

Di era modern ini Pesantren Darush tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai pesantren salafiyah, sehingga kitab kuning tetap menjadi kajian utama.

Program Pengayaan

Program pengayaan diselenggarakan apabila target kurikulum telah tercapai. Ustadz mengadakan pengembangan materi pada kitab atau rujukan lain yang dipandang perlu untuk meningkatkan dan memperluas kompetensi santri.

Di samping program pengayaan di atas, Pesantren secara terprogram menyelenggarakan kegiatan pesantren kilat (pasaran) pada setiap bulan suci ramadhan. Pada kegiatan ini, santri secara klasikal mengkaji kitab tertentu di bawah bimbingan ustadz dengan pendekatan bandongan. Melalui kegiatan ini santri diharapakan mampu memperkaya wawasan keilmuan sekaligus membiasakan diri mengisi bulan suci dengan kegiatan yang bermanfaat.

Pesantren Ramadhan 2008

Pesantren Darush Showab bekerjasama dengan MA Darul Mu'allamah menyelenggarakan Pesantren Ramadhan 2008 dengan kajian kitab sulamul munajat.  Peserta pengajian adalah santri Pesantren Darush Showab dan siswa-siswi MA darul Mu'allamah. Kegiatan ini dilaksanakan selama sepuluh hari, mulai tanggal 3 s.d. 12 Ramadhan dengan narasumber pengasuh Pesantren Darush Showab.

 Pengasuh Pesantren Darush Showab menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan

 Kepala MA Darul Mu'allamah Bapak Oding Saputra, S.Pd.I. menyerahkan penghargaan kepada peserta dalam acara penutupan

Wakil Kepala MA Darul Mu'allamah Bapak Dadang Supyani, S.Sos.I.

Dewan Guru MA Darul Mu'allamah

Ekstrakurikuler dan Pembiasaan

ziarah di makam Abuya
Kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan diselenggarakan untuk menunjang kompetensi santri khususnya dalam bidang hobi dan keahlian serta menanamkan kebiasaan positif dalam bidang ubudiyah dan kehidupan bermasyarakat (sosial). Di Pesantren Darush Showab terdapat beberapa program ekstrakurikuler dan pembiasaan sebagai berikut:

-  Muhadhoroh (latihan pidato)

-  Qiro'at

-  Marhaba (Maulid Nabi)

-  Tahlil dan Ziarah

-  Tadarus al-Qur'an

-  Shalat sunnah dan shalat berjama'ah

-  Kebersihan dan keindahan

-  Budaya dan etika islami

Pesantren Ramadhan 2008

Para peserta sedang mengikuti kegiatan pengajian pesantren ramadhan 2008






Pesantren Ramadhan 2008


Acara penutupan Pesantren Ramadhan 2008






Pesantren Ramadhan 2008

Acara penutupan yang diisi dengan kegiatan buka bersama, nampak para peserta sedang balakecrakan.





Hasan Basri Hambali [Pengasuh Pesantren]

K.H. Hasan Basri Hambali
(Babas)
Orang tua :
-  Ayah : K.H. Hambali Ahmad (Alm)
-  Ibu : Hj. Aisah (Almh)

Saudara (adik) :
-  Edi Junaedi
-  Yani Suryani
-  Lala Alawiyah
-  Yana Mardiana

Istri : Hj. Nunung Asiah

Anak : 
- Ahmad Sahal Hasan
- Muhammad Hanif Hasan
- Nahla Nafisah Hasan

Pendidikan Non-Formal :
-  TPQ Darush Showab, Babakan Ciawi (Pimpinan Ustadz Salman)
-  MDA Darush Showab, Babakan Ciawi (Pimpinan K.H. Syuja'i)
-  Pesantren Nihayatul Amal, Rawamerta - Karawang (Pimpinan K.H. Ahmad Bushaeri)
-  Pesantren Nurul Huda, Kawali - Ciamis (Pimpinan K.H. Idi Kholidi)
-  Pesantren Darut Tafsir al-Husaini, Sawangan – Depok (Pimpinan K.H. Ahmad Syarif Hidayatullah)

Pendidikan Formal :
-  SDN Pasir Kupang (1988-1994)
-  MTsN Rawamerta, Karawang (1994-1997)
-  MA Nurul Huda, Kawali - Ciamis (1997-2000)
-  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - 
Program Studi Perbandingan Mazhab Fiqih - Fakultas Syari’ah dan Hukum - (2000-2004)

Tenaga Pengajar


Ustadz Acep Hamjah, S.Ag. M.Si.




Ustadz Engkus Kusnadi



Ustadz Aay Jalaluddin, S.Pd.I.



Ustadz Ukar Sukarna, S.Pd.I.

Fatwa MUI tentang Kepiting


KEPUTUSAN FATWA
KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA tentang KEPITING

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam rapat Komisi bersama dengan Pengurus Harian MUI dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LP.POM MUI), pada hari Sabtu, 4 Rabiul Akhir 1423 H./15 Juni 2002 M.,
Setelah

MENIMBANG
1. bahwa di kalangan umat Islam Indonesia, status hukum mengkonsumsi kepiting masih dipertanyakan kehalalannya;
2. bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang status hukum mengkonsumsi kepiting, sebagai pedoman bagi umat Islam dan pihak-pihak lain yang memerlukannya.

MENGINGAT
1. Firman ALLOH SWT tentang keharusan mengkonsumsi yang halal dan thayyib (baik), hukum mengkonsumsi jenis makanan hewani,dan sejenisnya, antara lain :
2. "Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu" (QS. Al-Baqarah [2]:168).
3. "(yaitu) orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk… " (QS. al-A'raf[7]: 157).
4. Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka? " Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan ALLOH kepadamu. Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama ALLOH atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada ALLOH, sesungguhnya ALLOH amat cepat hisab-Nya". Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan ALLOH kepadamu; dan syukurilah ni'mat ALLOH jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang ALLOH telah berikan kepadamu, dan bertakwalah kepada ALLOH yang kamu beriman kepada-Nya. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang baik, bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan panjang,.."(OS. al-Baqarah [2] : 172).
5. Kemudian Nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan badannya berlumur debu.Sambil menengadahkan kedua tangan ke langit ia berdoa, 'Ya Tuhan, ya Tuhan,.. (berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan kondisi seperti itu, pada umumnya dikabulkan oleh ALLOH swt. Sedangkan, makanan orang itu haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. (Nabi memberikan komentar),'Jika demikian halnya, bagaimana mumgkin ia akan dikabulkan doanya"… (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
"Yang halal itu sudah jelas dan yang harampun sudah jelas; dan di antara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halas haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa hati-hati dari perkara syubhat sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya…" (HR.Muslim).
6. Hadis Nabi : "Laut itu suci airnya dan halal bangkai (ikan)-nya" (HR.Khat-iisa11),
7. Pada dasarnya hukum tentang sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya
8. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga MUI Periode 2001-2005
9. Pedoman Penetapan Fatwa MUI

Memperhatikan :
1. Pendapat Imam Al Ramli dalam Nihayah Al Muhtajila Ma'rifah Alfadza-al-Minhaj, (t.t : Dar'al -Fikr,t.th) juz VIII, halaman 150 tentang pengertian "Binatang laut/air ,dan halaman 151- 152 tentang binatang yang hidup di laut dan di daratan
2. Pendapat Syeikh Muhammad al-Kathib a;-Syarbaini dalam Mughni Al-Muhtaj ila Ma'rifah Ma'ani Al-Minhaj, (t.t dar Al-Fikr, T.th), juz IV Hal 297 tentang pengertian "binatanglaut/Air ", pendapat Imam Abu Zakaria bin Syaraf al-Nawawi dalam Minhaj Al-Thalibin, Juz IV, hal. 298 tentang binatang laut dan di daratan serta alasan ('illah) hukum keharamannya yang dikemukakan oleh al-Syarbaini :
3. Pendapat Ibn al'Arabi dan ulama lain sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah (Beirut : Dar al-Fikr,1992), Juz lll, halaman 249 tentang "binatang yang hidup di daratan dan laut"
4. Pendapat Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA (anggot A Komisi Fatwa) dalam makalah Kepiting : Halal atau Haram dan penjelasan yang disampaikannya pada Rapat Komisi Fatwa MUI, serta pendapat peserta rapat pada hari Rab 29 Mei2002 M./ 16Rabi'ul Awwal 1421 H.
5. Pendapat Dr. Sulistiono (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB) dalam makalah Eko-Biologi Kepiting Bakau (Scylllaspp) dan penjelasannya tentang kepiting yang disampaikan pada Rapat Komisi Fatwa MUI pada hari Sabtu, 4 Rabi'ul Akhir 1423 H / 15 Juni 2002M, antara lain sebagai berikut:
6. Ada 4 (empat) jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan menjadi komoditas, yaitu:


b. Scylla tranquebarrica,

d. Scylla pararnarnosain.

Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum hanya disebut dengan "kepiting"

1. Kepiting adalah jenis binatang air, dengan alasan:
a. Bernafas dengan insang.
b. Berhabitat di air.
c. Tidak akan pernah mengeluarkan telor di darat, melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air.
2. Kepiting termasuk keempat jenis di atas(lili._angka 1) hanya ada yang:
a. hidup di air tawar saja
b. hidup di air laut saja, dan
c. hidup di air laut dan di air tawar. Tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam : di laut dan di darat.

Rapat Komisi Fatwa MUI dalam rapat tersebut, bahwa kepiting, adalah binatang air baik di air laut maupun di air tawar dan bukan binatang yang hidup atau berhabitat di dua alam : di laut dan di darat :

Dengan bertawakkal kepada ALLOH SWT.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG KEPITING
1. Kepiting adalah HALAL dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.

2. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari terdapat kekeliruan, akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal : 4 Rabi'ul Akhir 1423 H. 15 Ju1i 2002M


KOMISI FATWA

MAJLIS ULAMA INDONESIA

في إعراب ألفاظ جرومية - باب الكلام

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
(بِسْمِ) الباءُ حرف جر، اِسْمِ مجرور بالباء، وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. الجار والمجرور متعلق بمحذوف وتقديره اَبْتَدِأُ أو نحوه. اِسْمِ مضاف، (اللهِ) مضاف إليه، وهو مجرور بالمضاف وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (الرَّحْمَنِ) نعت أول للهِ، ونعت المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (الرَّحِيْمِ) نعت ثان للهِ، ونعت المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره.
الْكَلَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيْدُ بِالْوَضْعِ
(الْكَلَامُ) مبتدأ، وهو مرفوع بالابتداء وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (هُوَ) ضمير فصل لا موضع لها من الإعراب. (اللَّفْظُ) خبر المبتدأ، وهو مرفوع بالمبتدأ وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. والجملة من المبتدأ والخبر لا محل لها من الإعراب جملة مستأنفة. (الْمُرَكَّبُ) نعت أول للَّفْظُ، ونعت المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (الْمُفِيْدُ) نعت ثان للَّفْظُ، ونعت المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (بِالْوَضْعِ) الباءُ حرف جر، الْوَضْعِ مجرور بالباء وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. الجار والمجرور متعلق بالْمُفِيدُ.
وَأَقْسَامُهُ ثَلَاثَةٌ اِسْمٌ وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنًى
(وَأَقْسَامُهُ) الواوُ للاستئناف، أَقْسَامُ مبتدأ، وهو مرفوع بالابتداء وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. أَقْسَامُ مضاف، والهاءُ ضمير متصل مضاف إليه، مبني على الضم في محل جر لأنه اسم مبني لا يظهر فيه إعراب (ثَلَاثَةٌ) خبر المبتدأ، وهو مرفوع بالمبتدأ وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. والجملة من المبتدأ والخبر لا محل لها من الإعراب جملة مستأنفة. (اِسْمٌ) بدل من ثَلَاثَةٌ بدل البعض من الكل، وبدل المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (وَفِعْلٌ) الواوُ حرف عطف، فِعْلٌ معطوف على اِسْمٌ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (وَحَرْفٌ) الواوُ حرف عطف، حَرْفٌ معطوف على اِسْمٌ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (جَاءَ) فعل ماض مبني لمعلوم، وهو مبني على فتح لفظي لا موضع لها من الإعراب. والفاعل ضمير مستتر فيه جوازا وتقديره هُوَ يعود على حَرْفٌ. والجملة من الفعل والفاعل في محل رفع نعت لحَرْفٌ. (لِمَعْنًى) اللامُ حرف جر، مَعْنًى مجرور باللام وعلامة جره كسرة مقدرة على آخره منع من ظهورها التعذر. الجار والمجرور متعلق بجَاءَ.
فَالْاِسْمُ يُعْرَفُ بِالْخَفْضِ وَالتَّنْوِيْنِ وَدُخُوْلِ الْأَلِفِ وَاللَّامِ وَحُرُوْفِ الْخَفْضِ وَهِيَ مِنْ وَإِلَى وَعَنْ وَعَلَى وَفِيْ وَرُبَّ وَالْبَاءُ وَالْكَافُ وَاللَّامُ وَحُرُوْفُ الْقَسَمِ وَهِيَ الْوَاوُ وَالْبَاءُ وَالتَّاءُ
(فَالْاِسْمُ) الفاءُ فاء الفصيحة، وضابتها أن تقع في جواب شرط مقدر، وتقديره إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ بَيَانَ كُلٍّ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ فَأَقُولُ لَكَ الْاِسْمُ. الْاِسْمُ مبتدأ وهو مرفوع بالابتداء وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (يُعْرَفُ) فعل مضارع مبني لمجهول، وهو مرفوع لتجرده عن الناصب والجازم وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. ونائب الفاعل ضمير مستتر فيه جوازا وتقديره هُوَ يعود على الْاِسْمُ. والجملة من الفعل ونائب الفاعل في محل رفع خبر المبتدأ. والجملة من المبتدأ والخبر في محل نصب مقول قوله المقدر. (بِالْخَفْضِ) الباءُ حرف جر، الْخَفْضِ مجرور بالباء، وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. الجار والمجرور متعلق بيُعْرَفُ. (وَالتَّنْوِيْنِ) الواوُ حرف عطف، التَّنْوِيْنِ معطوف على الْخَفْضِ، والمعطوف على المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (وَدُخُوْلِ) الواوُ حرف عطف، دُخُولِ معطوف على الْخَفْضِ، والمعطوف على المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. دُخُوْلِ مضاف، (الْأَلِفِ) مضاف إليه، وهو مجرور بالمضاف وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (وَاللَّامِ) الواوُ حرف عطف، اللَّامِ معطوف على الْأَلِفِ، والمعطوف على المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (وَحُرُوْفِ) الواوُ حرف عطف، حُرُوْفِ معطوف على الْخَفْضِ، والمعطوف على المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. حُرُوْفِ مضاف، (الْخَفْضِ) مضاف إليه، وهو مجرور بالمضاف وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (وَهِيَ) الواوُ للاستئناف، هِيَ ضمير منفصل مبتدأ، مبني على الفتح في محل رفع لأنه اسم مبني لا يظهر فيه إعراب. (مِنْ) وما عطف عليها خبر المبتدأ، وهو مرفوع بالمبتدأ وعلامة رفعه ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. والجملة من المبتدأ والخبر لا محل لها من الإعراب جملة مستأنفة. (وَإِلَى) الواوُ حرف عطف، إِلَى معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. (وَعَنْ) الواوُ حرف عطف، عَنْ معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. (وَعَلَى) الواوُ حرف عطف، عَلَى معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. (وَفِيْ) الواوُ حرف عطف، فِيْ معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. (وَرُبَّ) الواوُ حرف عطف، رُبَّ معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. (وَالْبَاءُ) الواوُ حرف عطف، الْبَاءُ معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (وَالْكَافُ) الواوُ حرف عطف، الْكَافُ معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (وَاللَّامُ) الواوُ حرف عطف، اللَّامُ معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (وَحُرُوْفُ) الواوُ حرف عطف، حُرُوْفُ معطوف على مِنْ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. حُرُوْفُ مضاف، (الْقَسَمِ) مضاف إليه، وهو مجرور بالمضاف وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (وَهِيَ) الواوُ للاستئناف، هِيَ ضمير منفصل مبتدأ، مبني على الفتح في محل رفع لأنه اسم مبني لا يظهر فيه إعراب. (الْوَاوُ) وما عطف عليها خبر المبتدأ، وهو مرفوع بالمبتدأ وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. والجملة من المبتدأ والخبر لا محل لها من الإعراب جملة مستأنفة. (وَالْبَاءُ) الواوُ حرف عطف، الْبَاءُ معطوف على الْوَاوُ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (وَالتَّاءُ) الواوُ حرف عطف، التَّاءُ معطوف على الْوَاوُ، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره.
وَالْفِعْلُ يُعْرَفُ بِقَدْ وَالسِّيْنِ وَسَوْفَ وَتَاءِ التَّأْنِيْثِ السَّاكِنَةِ
(وَالْفِعْلُ) الواوُ حرف عطف، الْفِعْلُ مبتدأ، وهو مرفوع بالابتداء وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (يُعْرَفُ) فعل مضارع مبني لمجهول، وهو مرفوع لتجرده عن الناصب والجازم وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. ونائب الفاعل ضمير مستتر فيه جوازا وتقديره هُوَ يعود على الْفِعْلُ. والجملة من الفعل ونائب الفاعل في محل رفع خبر المبتدأ. والجملة من المبتدأ والخبر في محل نصب معطوف على جملة قوله الْاِسْمُ يُعْرَفُ. (بِقَدْ) الباءُ حرف جر، قَدْ مجرور بالباء، وعلامة جره كسرة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. الجار والمجرور متعلق بيُعْرَفُ. (وَالسِّيْنِ) الواوُ حرف عطف، السِّيْنِ معطوف على قَدْ، والمعطوف على المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (وَسَوْفَ) الواوُ حرف عطف، سَوْفَ معطوف على قَدْ، والمعطوف على المجرور مجرور وعلامة جره كسرة مقدرة على آخره منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة الحكاية. (وَتَاءِ) الواوُ حرف عطف، تَاءِ معطوف على قَدْ، والمعطوف على المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. تَاءِ مضاف، (التَّأْنِيْثِ) مضاف إليه، وهو مجرور بالمضاف وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (السَّاكِنَةِ) نعت لتَاءِ، ونعت المجرور مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره.
وَالْحَرْفُ مَا لَا يَصْلُحُ مَعَهُ دَلِيْلُ الْاِسْمِ وَلَا دَلِيْلُ الْفِعْلِ

(وَالْحَرْفُ) الواوُ حرف عطف، الْحَرْفُ مبتدأ، وهو مرفوع بالابتداء وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (مَا) نكرة موصوفة خبر المبتدأ، مبني على السكون في محل رفع لأنه اسم مبني لا يظهر فيه إعراب. والجملة من المبتدأ والخبر في محل نصب معطوف على جملة قوله الْاِسْمُ يُعْرَفُ. (لَا) نافية (يَصْلُحُ) فعل مضارع مبني لمعلوم، وهو مرفوع لتجرده عن الناصب والجازم، وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. (مَعَهُ) مَعَ ظرف مكان، وهو منصوب على الظرفية المكانية، وعلامة نصبه فتحة ظاهرة في آخره. والظرف متعلق بيَصْلُحُ. مَعَ مضاف، والهاءُ ضمير متصل مضاف إليه، مبني على الضم في محل جر لأنه اسم مبني لا يظهر فيه إعراب. (دَلِيْلُ) فاعل يَصْلُحُ، وهو مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. والجملة من الفعل والفاعل في محل رفع نعت لِمَا. دَلِيلُ مضاف، (الْاِسْمِ) مضاف إليه، وهو مجرور بالمضاف وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. (وَلَا) الواوُ حرف عطف، لَا نافية (دَلِيْلُ) معطوف على دَلِيْلُ الأول، والمعطوف على المرفوع مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. دَلِيْلُ مضاف، (الْفِعْلِ) مضاف إليه، وهو مجرور بالمضاف وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره.
 format : word

Home