Haul Kyai


1. Haul Abuya K.H. Ahmad Damiri, setiap tanggal 8 Jumadal Akhiroh

2. Haul K.H. Hambali Ahmad, setiap tanggal 9 Syawwal

3. Haul K.H. Syuja'i, setiap malam jum'at minggu I bulan Robi'ul  Awwal

4. Haul K.H. Hasan Djuwaeni, setiap tanggal 28 November

Pengajian Umum


1. Pengajian Umum Bapak-bapak, Masjid Jami' Darush Showab, setiap malam jum'at ba'da isya

2. Pengajian Umum, Masjid Jami' Al-Huda - Galang - Sukamukti, setiap malam sabtu ba'da maghrib

3. Pengajian Umum Ibu-ibu, Majlis Ta'lim Darush Showab, setiap hari senin jam 09.00 pagi

Pengajian Kitab Kuning


Waktu : Setiap hari Ahad  jam 08.00 s.d. selesai

Tempat : Aula Pesantren Darush Showab

Peserta : Santri, Alumni Pesantren Darush Showab dan jama'ah umum

Kajian : Minhajul Abidin karya Imam al-Ghozali, Fathul Mu'in karya Syaikh Zainuddin al-Malibari

Ilmu

وقال الخليل بن أحمد: الرجال أربعة: رجل يدري ويدري أنه يدري فذلك عالم فاتبعوه، ورجل يدري ولا يدري أنه يدري فذلك نائم فايقظوه، ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذلك مسترشد فأرشدوه، ورجل لا يدري ولا يدري أنه لايدري فذلك جاهل فأرفضوه.
al-Kholil bin Ahmad berkata: manusia itu ada empat kelompok, 1) orang tahu yang menyadari bahwa dirinya tahu, itulah orang alim, maka ikutilah dia; 2) orang tahu yang tidak menyadari bahwa dirinya tahu, itulah orang tidur, maka bangunkanlah dia; 3) orang yang tidak tahu dan menyadari bahwa dirinya tidak tahu, itulah orang yang mencari petunjuk, berilah ia petunjuk; dan 4) orang yang tidak tahu tapi tidak menyadari bahwa dirinya tidak tahu, itulah orang bodoh, jauhilah dia.
[Ithaf as-Sa'il, 29]

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: خَيْرُ الْمَوَاهِبِ الْعَقْلُ، وَشَرُّ الْمَصَائِبِ الْجَهْلُ
Sebagian ahli balaghah berkata: sebaik-baiknya karunia adalah akal, dan seburuk-buruknya musibah adalah kebodohan
[Adab ad-Dunya wa ad-Din, hal. 17]

قَالَ مُصْعَبُ بْنُ الزُّبَيْرِ: تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنْ يَكُنْ لَك مَالٌ كَانَ لَك جَمَالًا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَك مَالٌ كَانَ لَك مَالًا
Mush'ab bin as-Zubair berkata: tuntutlah ilmu, jika kamu punya harta maka ilmu menjadi penghias bagimu, jika kamu tidak punya harta maka ilmu menjadi kekayaan bagimu
[Adab ad-Dunya wa ad-Din, hal 36]

تعلم فليس المرأ يولد عالما * وليس أخو العلم كمن هو جاهل
tuntutlah ilmu, tidak ada orang yang terlahir dalam keadaan pintar, orang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu
[Ta'lim al-Muta'allim]

تعلم فإن العلم زين لأهله * وفضل وعنوان لكل المحامد
tuntutlah ilmu, sesungguhnya ilmu adalah perhiasan dan keutamaan bagi pemiliknya, ilmu adalah tanda bagi setiap kebaikan yang terpuji
 [Ta'lim al-Muta'allim]

 قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مَنْ أَكْثَرَ الْمُذَاكَرَةَ بِالْعِلْمِ لَمْ يَنْسَ مَا عَلِمَ وَاسْتَفَادَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Sebagian Ulama berkata: barangsiapa memperbanyak mudzakarah dalam ilmu, ia tidak akan lupa terhadap ilmu yang dimiliki dan mendapatkan ilmu yang belum ia ketahui    
[Adab ad-Dunya wa ad-Din, hal. 52]

وَقَدْ بَيَّنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - فَضْلَ مَا بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ فَقَالَ: الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ. الْعِلْمُ يَحْرُسُك، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ. الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ. مَاتَ خَزَّانُ الْأَمْوَالِ وَبَقِيَ خَزَّانُ الْعِلْمِ أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَشْخَاصُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ
'Ali bin Abi Tholib RA telah menjelaskan keutamaan ilmu dibandingkan dengan harta, ia berkata: "ilmu lebih baik daripada harta, ilmu itu menjagamu sedangkan kamu harus menjaga harta. ilmu adalah hakim sedangkan harta menjadi objek hukum. para penjaga harta akan mati sedangkan pemilik ilmu itu kekal, raganya telah tiada namun sosoknya tetap ada di dalam hati"
[Adab ad-Dunya wa ad-Din, hal. 42]

قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: مَنْ لَمْ يَحْتَمِلْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً بَقِيَ فِي ذُلِّ الْجَهْلِ أَبَدًا
Sebagian ahli hikmah berkata: orang yang tidak mau bertahan sesaat dalam kehinaan menuntut ilmu, maka selamanya ia akan berada dalam hinanya kebodohan.
[Adâb ad-Dunyâ wa ad-Dîn halaman 67]

وقال الحسن البصري - رحمه الله تعالى -: يوزن مداد العلماء بدم الشهداء، فيرجح مداد العلماء على دم الشهداء.
Imam al-Hasan al-Bashriy rohimahulloh berkata: "ditimbang tintanya para ulama dengan darahnya para syuhada, maka tinta para ulama lebih unggul daripada darah para syuhada."

قال الامام مالك رحمه الله تعالى: ليس العلم بكثرة الرواية، وانما العلم نور يقذفه الله 
تعالى في القلب
Imam Malik rohimahulloh berkata: ilmu itu bukan banyaknya riwayat, melainkan cahaya yang Alloh hujamkan ke dalam hati (hambaNya).


وفي الجهل قبل الموت موت لاهله ... فاجسادهم قبل القبور قبور
Orang bodoh dianggap mati sebelum ia mati, jasadnya telah terkubur sebelum dikubur.

 [Imam al-Haddad, ad-Da'wah at-Tammah]

Munajat

إلهي عبدك الجاني أتاك ... مُقِرًّا بالذنوب وقد دعاكا
فإن تغفر فأنت لذاك أهل ... وإن تطرد فمن يرحم سواكا

wahai Tuhanku, hambamu yang berdosa ini datang kepada-Mu
mengakui dosa-dosa dan bermohon kepada-Mu
jika Engkau mengampuniku, Engkau memang layak akan hal itu
jika Engkau menolak (taubatku), siapakah yang dapat memberiku kasih sayang
 [Munajat Imam asy-Syafi'i, Hidayah al-Adzkiya, hal 16-17]

Ukhuwwah

إذا التقى المسلمان فتصافحا وحمدا الله واستغفراه غفر الله لهما

jika dua orang muslim bersalaman lalu bertahmid dan beristighfar kepada Alloh, maka Alloh akan mengampuni keduanya.
[HR Abu Dawud]

Dzikir

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " إذا مَرَرْتُمْ بِرِياضِ الجَنَّةِ فارْتَعُوا. قالُوا: وَمَا رِياضُ الجَنَّةِ يا رَسُولَ الله؟ قالَ: حِلَقُ الذّكْرِ، فإنَّ لله تعالى سَيَّارَاتٍ مِنَ المَلائِكَةِ يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذّكْرِ، فإذَا أَتَوْا عَليْهِمْ حَفُّوا بِهِمْ " (رواه البيهقي عن أنس)
Rosululloh Saw. bersabda: jika kamu melewati taman-taman surga, maka merumputlah! Para sahabat bertanya apa taman-taman surga itu wahai Rosululloh? Rosul menjawab, perkumpulan dzikir, sesungguhnya Alloh memiliki malaikat-malaikat yang berjalan mencari perkumpulan dzikir, jika mereka mendatangi perkumpulan tersebut maka mereka akan mengepungnya. (HR. Bayhaqi dari Anas)

عن أبي سعيد الخدري وأبي هريرة رضي الله عنهما: أنهما شهدا على رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: " لا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُون اللَّهَ تَعالى إلا حَفَّتْهُمُ المَلائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَليهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرََهُمُ اللَّهُ تَعالى فِيمَنْ عِنْدَهُ " (رواه مسلم)
Diriwayatkan dari Abi Sa'id al-Khudriy ra. dan Abi Hurayroh ra., bahwa mereka berdua menyaksikan Rosululloh Saw. bersabda: tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Alloh Swt. melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi oleh rahmat, akan turun kepada mereka ketenangan, dan Alloh akan menyebut-nyebut nama mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR Muslim)
عن عمرَ بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ نامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شئ منه فقرأه ما بَيْنَ صَلاةِ الفَجْرِ وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من اللَّيل  (رواه مسلم)
Diriwayatkan dari 'Umar bin al-Khoththob ra. ia berkata, Rosululloh Saw. bersabda: barangsiapa tidur (meninggalkan) hizibnya atau sebagian dari hizibnya, kemudian ia membacanya diantara sholat shubuh dan sholat zhuhur, maka akan ditulis baginya seakan-akan ia telah membacanya pada waktu malam. (HR. Muslim)

قال رجل لأبي حفص إني أذكر الله ولا أجد حضورا، فقال له: أحمد الله الذي زين جارحة من جوارحك بذكره
Seorang laki-laki berkata kepada Abu Hafsh: “sesungguhnya aku berdzikir kepada Alloh tetapi tidak mendapatkan kekhusyu’an”. Abu Hafsh berkata: “memujilah kepada Alloh yang telah menghiasi salah satu anggota tubuhmu dengan berdzikir kepada-Nya”.  [Ithaf as-Sa’il, hal. 17]

Kematian

اعلَم أَيُّها المُريد أَنَّكَ لا تَقدِرُ عَلى مُلازَمةِ الطَّاعات وَمُجانَبةِ الشَّهوات والإِعراض عَن الدُّنيا إلاّ بِأَن تَستَشعِرَ في نَفسِكَ أَنَّ مُدَّةَ بَقائِكَ في الدُّنيا أَيَّامٌ قَلِيلةٌ، وأَنَّكَ عَمَّا قَرِيبٍ تَموتُ، فَتَنصِبَ أجَلكَ بَينَ عَينَيكَ، وَتَستَعِدَّ لِلمَوتِ وَتُقَدِّرَ نُزولَهُ بِكَ في كُلِّ وَقت

Ketahuilah, bahwa kamu tidak akan mampu istiqomah dalaam ketaatan, menjauhi syahwat dan berpaling dari dunia, kecuali jika dalam hatimu mampu merasakan bahwa kehidupan dunia ini sebentar, kamu sangat dekat dengan kematian, ajal berada di depan matamu, kamu mempersiapkan diri menghadapi maut dan memperkirakannya akan datang setiap saat
[Nasihat Imam 'Abdulloh bin 'Alawi al-Haddad dalam kitab Adab Suluk al-Murid]

Jujur

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَريبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ

Rosululloh SAW bersabda: tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju hal yang tidak meragukan. sesungguhnya kejujuran itu membawa ketenangan dan kebohongan itu membawa keraguan.
[HR. Tirmidzi]

وقال عليه الصلاة والسلام: «التاجر الصدوق الأمين يحشر مع النبيين والصديقين والشهداء»

Nabi Shollallohu 'Alayhi Wasallam bersabda: "pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan (pada hari akhir) bersama para Nabi, Shiddiqin dan Syuhada".


ومن الكذب الشديد التحريم على التجار وأرباب الصناعات أن يقول أحدهم: أخذته بكذا وأعطيت به كذا؛ وهو كاذب يخدع بذلك أخاه المسلم ويغشُّه؛ فربما صدقه الآخذ منه ثقة به فيظلمه ويأكل ماله بالباطل.

Diantara dusta yang sangat haram, adalah ucapan para pedagang dan pengusaha: "saya membelinya dengan harga sekian dan menjualnya dengan harga sekian", padahal ia berdusta dan menipu saudaranya sesama muslim. Apabila ucapannya dianggap benar, maka ia telah berbuat aniaya dan memakan harta saudaranya dengan cara yang bathil.

Jauhilah dusta dan ingkar janji, sungguh telah datang peringatan bahwa:
«ويل للتاجر من «لا والله»، و «بلى والله». وويل للمحترف من «غد وبعد غد»."Kecelakaan bagi pedagang karena sumpahnya: 'tidak, demi Alloh' 'iya, demi Alloh'. Kecelakaan bagi pekerja karena ucapannya: 'besok, lusa' (padahal ia ingkar janji)"...

[Imam al-Hadad, ad-Da'wah at-Tammah]

Al-Qur’an

قال الحسن البصري رحمه الله: إن من كان قبلكم رأوا هذا القرآن رسائل إليهم من ربهم، فكانوا يتدبرونها بالليل وينفذونها بالنهار

Imam Hasan al-Bashri rohimahulloh berkata: sesungguhnya orang-orang sebelum kamu memandang al-Qur'an ini sebagai surat dari Tuhan mereka, mereka menghayati dan merenungkan maknanya pada waktu malam, dan mengamalkan kandungannya pada waktu siang". 
 [an-Nasho'ih ad-Diniyyah]

Tawadhu’

فائدة: من خط السمهودي قال: من فضل التواضع ما ذكر أن الله تعالى أتحف آدم عليه السلام بخاتم فقال الإبهام: أنا أحق به منكن لكوني منفرداً، وقالت السبابة: أنا أحق به لكوني مسبحة، وقالت الوسطى: أنا أحق به لكوني أطولكن، وقالت البنصر: أنا أحق به لكوني طرفاً، فيئست الخنصر منه لانكسارها وصغرها فخصها الله به ورفعها بتواضعها لكونها لم تر نفسها مستحقة  اهـ.  بغية المسترشدين

Diantara keutamaan tawadhu’, diriwayatkan bahwa Alloh Ta’ala memberi hadiah sebuah cincin kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Ibu jari berkata: “aku lebih berhak daripada kalian, karena aku sendirian (terpisah dari yang lain). Telunjuk berkata: “aku lebih berhak, karena aku telunjuk (digunakan untuk menunjuk)”. Jari tengah berkata: “aku lebih berhak, karena aku paling panjang”. Jari manis berkata: “aku lebih berhak, karena aku berada paling ujung”. Jari kelingking tidak berharap dengan cincin tersebut karena ia merasa paling kecil, maka Alloh memilih kelingking untuk (mendapatkan hadiah) cincin tersebut, Alloh mengangkat derajat kelingking karena ketawadhu’annya (rendah hati) karena ia merasa dirinya tidak mempunyai hak.
[Bughyah al-Mustarsyidin]

Pendengaran dan Penglihatan

قال الشيخ عبد الله بن علوي الحداد: واعلم أنّ السّمع والبصَرَ بابانِ مَفتوحانِ إلى القلبِ، يَصيرُ إليهِ كُلُّ ما يدخُلُ مِنهُما
Syaikh 'Abdulloh bin 'Alawi al-Haddad berkata: "ketahuilah, bahwa pendengaran dan penglihatan adalah pintu yang terbuka sampai ke dalam hati, setiap yang masuk dari keduanya akan sampai ke dalam hati". 
[Risalah Adab Suluk al-Murid, hal. 18]

Waktu

ما من يوم إلا وهو ينادي: يا ابن آدم أنا خلق جديد, وعلى عملك شهيد، فاغتنم مني فإني لا أعود إلى يوم القيامة

tidaklah datang suatu hari melainkan ia menyeru: wahai anak cucu Adam, aku adalah makhluk Alloh yang baru, aku menyaksikan perbuatanmu, pergunakanlah aku dengan sebaik-baiknya, sungguh aku tidak akan kembali lagi (terulang) sampai hari kiamat.
[Syarh al-Hikam al-‘Atho’iyyah, hal. 32]

Syukur dan Sabar

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «أَوْحَى اللهُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ {يَا مُوسَى اشْكُرْ لِي حَقَّ الشُّكْرِ!}، قَالَ مُوسَى يَا رَبِّ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ؟ قَالَ {يَا مُوسَى إِذَا رَأَيْتَ النِّعْمَةَ مِنِّي فَذَلِكَ حَقُّ الشُّكْرِ}».
Diriwayatkan dari Rosululloh Shollallohu 'alayhi wa sallam bahwa Ia bersabda, Alloh memberikan wahyu kepada nabi Musa 'Alayhis salam, "Wahai Musa, bersyukurlah kepada-Ku dengan sebenar-benarnya syukur!" Musa bersabda, "Wahai Tuhan, siapakah yang mampu melaksanakan hal itu?" Alloh berfirman, "Wahai Musa, jika kamu memandang bahwa nikmat itu berasal dari-Ku, maka itulah sebenar-benarnya syukur."
[al-Futuhat al-Madaniyyah, halaman 13]


وَعَنْ أبي يَحْيَى صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ".رواه مسلم.
diriwayatkan dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra. ia berkata, Rosululloh SAW bersabda: "sungguh aku kagum pada urusan seorang mukmin, semua urusan menjadi kebaikan baginya, hal itu hanya terjadi pada diri seorang mukmin. jika mendapat kebahagiaan ia bersyukur, maka itu baik baginya dan jika mendapat kesulitan ia bersabar, maka itu baik baginya.
[HR Muslim]

قال بعض العارفين: الحمد لله ثمانية أحرف كأبواب الجنة, فمن قالها عن صفاء قلب استحق أن يدخل الجنة من أيها شاء, فيخير بينها إكراما ولا يختار إلا ما سبق في علمه تعالى أنه يدخل منه
Sebagian ahli ma'rifat: ‘alhamdulillah’ terdiri dari delapan hurup seperti jumlah pintu sorga, barangsiapa yang mengucapkannya disertai dengan hati yang bening, maka ia berhak masuk surga dari pintu mana pun. Ia dipersilahkan memilih diantara pintu-pintu tersebut. Ia hanya akan memilih sesuai dengan pengetahuan Alloh bahwa ia akan masuk dari pintu tersebut.
[Kifayah al-Atqiya, hal. 6]


قال عبد الله المغاوري لأبى الحسن الأشبلي: "يا أبا الحسن آمرك بخمس وأنهاك عن خمس. آمرك باحتمال أذى الخلق، وإدخال الراحة على الإخوان، وأن تكون أذنا، وأن لا تكون لسانا، وأن تكون مع الناس على نفسك. وأنهاك عن معاشرة النساء، وحب الدنيا، وحب الرياسة، وعن الدعوى، وعن الإغتياب في رجال الله"
Abdullah al-Mughowariy berkata kepada Abul Hasan al-Asybaliy, "Wahai Abul Hasan, aku menyuruhmu melaksanakan lima hal dan melarangmu melaksanakan lima hal. Aku menyuruhmu untuk sabar menghadapi penderitaan yang berasal dari makhluk, memberi kesenangan kepada saudara, engkau harus menjadi telinga, janganlah menjadi lidah, dan perlakukan orang lain seperti memperlakukan dirimu sendiri.  Aku melarangmu bergaul dengan wanita, mencintai dunia, jabatan, dan julukan, dan menggunjing Rijalulloh.
[al-Futuhat al-Madaniyyah Syarh asy-Syu'ab al-Imaniyyah, halaman 13-14]

Ikhlas

فإذا أثنى عليك شخص في وجهك فقل اللهم اجعلني خيرا مما يقولون واغفر لي ما لا يعلمون ولا تؤاخذني بما يقولون
Syaikh Nawawi Banten berkata: "Jika seseorang memuji di hadapanmu, ucapkanlah, "ya Alloh, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka ucapkan, ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui, janganlah engkau menyiksaku dengan apa yang mereka katakan."
[al-Futuhat al-Madaniyyah Syarh asy-Syu'ab al-Imaniyyah, halaman 11]

وقيل ليحيى بن معاذ  - رحمه الله تعالى - متى يكون العبد مخلصا؟ فقال: "اذا صار خلقه كخلق الرضيع، لا يبالي من مدحه أو ذمه"
Yahya bin Mu'adz rohimahullohu ta'ala ditanya, kapan seorang hamba menjadi hamba yang ikhlas? Beliau menjawab: "apabila akhlaknya seperti bayi yang sedang menyusu (terj. netek pada ibunya), ia tidak peduli orang memuji atau mencacinya
[Tanbih al-Mughtarrin, hal. 27]

روى الطبراني والبيهقي مرفوعا: إذا كان آخر الزمن صارت أمتي ثلاث فرق: فرقة يعبدون الله خالصا وفرقة يعبدون الله رياء وفرقة يعبدون الله تعالى ليستأكلوا به الناس ….. إهـ
Rosululloh SAW bersabda: "Jika tiba akhir zaman, maka umatku terbagi menjadi tiga golongan, golongan pertama beribadah kepada Alloh dengan ikhlas, golongan kedua beribadah kepada Alloh disertai riya, golongan ketiga beribadah kepada Alloh untuk mendapat makanan dari manusia
[Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah]

إذا صلحت المقاصد لم يَخِبِ القاصد
jika tujuannya baik, dia tidak akan menemukan kegagalan
[Syaikh 'Abdulloh bin 'Alawi al-Haddad, al-Hikam]


وَقَدْ ورد خبر مسند أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخبر عَن جبريل عَلَيْهِ السَّلام عَنِ اللَّه سبحانه وتعالى أَنَّهُ قَالَ: الإخلاص سر من سرى استودعته قلب من أحببته من عبادي

Telah datang sebuah hadits, bahwa Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam mendapat berita dari Jibril 'Alaihis Salam bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "ikhlas adalah salah satu rahasia-Ku, Aku menitipkannya pada hati orang yang Aku cintai"
[ar-Risalah al-Qusyairiyyah, 2/359]

Lisan

قال رسول الله صلى الله عليه وسلمكفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع
Cukup bagi seseorang dikatakan berdusta, jika ia mengatakan semua yang ia dengar.

وكان الفضيل رحمه الله تعالى يقول: من عدّ كلامَه من عملِهِ قل كلامُه، وما ورثوا الحكمةَ إلا بالصّمتِ والتفكرِ. والورعُ في النطقِ أشدُّ منه في اللقمةِ والثيابِ
Al-Fudhail rohimahulloh berkata: Orang yang membandingkan ucapan dengan perbuatannya, maka akan sedikit berbicara. Tidaklah para Auliya itu mendapatkan hikmah melainkan dengan cara diam (dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat). Kehati-hatian dalam berbicara jauh lebih sulit daripada kehati-hatian dalam mengkonsumsi makanan dan dalam berpakaian.
[al-Minah as-Saniyah h. 11]

وقد أجمعوا على أن الأنوارَ الربانيةَ تخرج من قلبِ المريدِ إذا تكلّم بلغوٍ ويصير قلبُهُ مظلمًا
Para ulama sepakat bahwa cahaya robbani akan keluar dari hati seorang murid  apabila ia mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat, dengan ucapan tersebut hatinya menjadi gelap.
[al-Minah as-Saniyah h. 11]

وأوحى الله إلى موسى عليه السلام: من مات تائباً من الغيبة فهو آخر من يدخل الجنة، ومن مات مصراً عليها فهو أول من يدخل النار
Alloh menurunkan wahyu kepada Nabi Musa 'Alaihis Salam : "orang yang mati dalam keadaan bertaubat dari dosa ghibah (menggunjing), ia adalah orang terakhir yang masuk surga. orang yang mati dalam keadaan membiasakan ghibah, ia adalah orang pertama yang masuk neraka.
 [Risalah al-Mu’awanah, hal 30]

Bekerja adalah Ibadah

فكان الشيخ أبو الحسن الشاذلي رحمه الله تعالى يقول: من اكتسب وقام بفرائضِ ربِهِ تعالى عليه فقد كمُلت مجاهدتُهُ
Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili rohimahulloh berkata: Orang yang berusaha (mencari rizki) dan tetap menjalankan kewajiban kepada Tuhannya, sungguh telah sempurna dalam mujahadah
[al-Minah as-Saniyah h.]

وكان الشيخ أبو العباس المرسي رحمه الله تعالى يقول:عليكم بالسببِ وليجعل أحدُكُمْ مكوكَه سبحتَه، وقدومَه سبحتَه، والخياطةَ سبحتَه، والسفرَ سبحتَه
Syaikh Abul 'Abbas al-Marasy rohimahulloh berkata: Hendaklah kalian melakukan sebab (berusaha dan bekerja), jadikanlah takaranmu (dalam berdagang) sebagai tasbih, qodum (perkakas tukang bangunan) sebagai tasbih, jarum (untuk menjahit) sebagai tasbih dan perjalananmu sebagai tasbih.
[al-Minah as-Saniyah h. 9]

Hawa Nafsu

قَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -؛ «حُبُّك الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ» أَيْ يُعْمِي عَنْ الرُّشْدِ وَيُصِمُّ عَنْ الْمَوْعِظَةِ
Nabi SAW bersabda: "kecintaanmu pada sesuatu menjadikan dirimu buta dan tuli"  yakni buta dari petunjuk dan tuli dari nasihat 
[Adab ad-Dunya wa ad-Din, hal 32]

وفي زبور السيد داود عليه السلام: يَا دَاوُد حذر وأنذر قومَك عن أكلِ الشهواتِ، فإن قلوبَ أهلِ الشهواتِ محجوبةٌ عنّي. إه
Diriwayatkan pada kitab Zabur, bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Wahai Daud, peringatkanlah kaummu agar tidak makan dengan mengikuti keinginan syahwat, karena hati orang yang mengikuti syahwat terhalang dari sisi-Ku
[al-Minah as-Saniyah h. 5]

وقال سيدي علي الخواص: من أكل الحرامَ وأطال العبادةَ فهو كالحمامِ الذي وقد على بَيْضٍ فاسدٍ، فهو يُتْعِبُ نفسَهُ في طولِ المقامِ ثم لايفرخ شيئًا بل يخرج مذرًا
Sayyid 'Ali al-Khowash rohimahulloh berkata: "Barangsiapa memakan barang haram dan menjalankan ibadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, ibarat burung merpati yang mengerami telur busuk, kelelahannya tidak akan menghasilkan apa-apa.
[al-Minah as-Saniyah h. 7]

منهومان لا يشبعان: منهوم العلم ، ومنهوم المال
ada dua keinginan yang tidak pernah merasa kenyang (terpenuhi): kegemaran terhadap ilmu dan kerakusan pada harta.
[Ihya ‘Ulum ad-Din, 3/238]

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: رَكَّبَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ مِنْ عَقْلٍ بِلَا شَهْوَةٍ، وَرَكَّبَ الْبَهَائِمَ مِنْ شَهْوَةٍ بِلَا عَقْلٍ، وَرَكَّبَ ابْنَ آدَمَ مِنْ كِلَيْهِمَا؛ فَمَنْ غَلَّبَ عَقْلَهُ عَلَى شَهْوَتِهِ فَهُوَ خَيْرٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ، وَمَنْ غَلَبَتْ شَهْوَتُهُ عَلَى عَقْلِهِ فَهُوَ شَرٌّ مِنْ الْبَهَائِمِ
Sebagian ulama berkata: Alloh menciptakan malaikat terdiri dari akal tanpa syahwat, Alloh menciptakan binatang terdiri dari syahwat tanpa akal, dan Alloh menciptakan anak cucu Adam terdiri dari keduanya (akal dan syahwat). barangsiapa akalnya mengalahkan syahwatnya maka ia lebih baik daripada malaikat, dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka ia lebih jelek daripada binatang.
[al-Mawardi, adab ad-dunya wa ad-din, hal. 31]

Profil Pesantren

VISI:

Melestarikan tradisi kitab kuning (turots) dalam konteks ke-Indonesiaan dengan tetap memperhatikan aspek keberagaman, perubahan sosial dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

MISI:

-  Menanamkan budaya toleransi (tasamuh) dalam upaya mewujudkan ikhtilaful ummah sebagai rahmat;
-  Mempertahankan nilai-nilai lama yang baik (sholih) dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik (ashlah);
-  Membumikan ajaran Islam dengan prinsip al-hanifiyatus samhah.


IDENTITAS PESANTREN

Nama Pesantren : DARUSH SHOWAB (معهد دار الصواب الإسلامي)

Nomor Statistik : 021603337051

Alamat :
Kp. Babakan Ciawi RT. 05/03 Desa Nagasari
Kecamatan Serang Baru - Kabupaten Bekasi - Jawa Barat Kode POS 17337
Telepon : 021-34780149  E-mail : darushshowab@gmail.com 

Tipe Pesantren : Salafiyah

Kajian Utama : Fiqih


Tahun Berdiri : 1942 M

Pendiri : Abuya K.H. Ahmad Damiri (Alm)

Dewan Kyai (Pendahulu):
-  K.H. Usman (Alm)
-  Mama K.H. Suja’i (Alm)
-  Apa K.H. Hambali Ahmad (Alm)
K.H. Saepudin (Alm)

Pengasuh Pesantren : K.H. Hasan Basri Hambali

Dewan Asatidz :
-  Ust. Acep Hamjah, S.Ag. M.Si.
-  Ust. Engkus Kusnadi
-  Ust. Aay Jalaluddin, S.Pd.I.
-  Ust. Ukar Sukarna, S.Pd.I.

Jadwal Majlis :
 
Pengajian Kitab Kuning : K.H. Hasan Basri Hambali
   🔵Malam Kamis (Jam 21.00 - selesai) : Alfiyah Ibnu Malik & Kifayatul 'Awam
   🔵Malam Sabtu (Ba'da Isya) : Tafsir Jalalain & Tajul 'Arus
   🔵Ahad Pagi (Jam 08.00 - Selesai) : Fathul Mu'in & Minhajul 'Abidin

Majlis Ta'lim Bapak-bapak (Malam Jum'at, Ba'da Isya) : K.H. Hasan Basri Hambali
 
Majlis Ta'lim Ibu-ibu (Senin Pagi) : Ust. Luky Hamjah
 
Sarana dan Prasarana
Pesantren Darush Showab menempati sebidang tanah seluas 4000 meter persegi dengan fasilitas asrama santri, majlis taklim, masjid jami, dan fasilitas pendukung lainnya.

Santri dan Alumni
Pesantren Darush Showab sejak berdiri hingga saat ini hanya melayani pendidikan pesantren untuk santri putra. Sedangkan alumni yang tercatat pernah mondok di Darush Showab tersebar di berbagai wilayah di antaranya Kabupaten Bekasi, Bogor, Karawang, Subang dan Lampung.
 
 
 
 
 

Taubat

مَنْ لَا أَرْضَ لَهُ لَا بِنَاءَ لَهُ، كَذَلِكَ مَنْ لَا تَوْبَةَ لَهُ لَا حَالَ لَهُ وَلَا مَقَامَ
Orang yang tidak memiliki tanah maka ia tidak akan mempunyai bangunan ,demikian pula orang yang tidak bertaubat, tidak akan mendapatkan tempat di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
[al-Minah as-Saniyah h. 2]

وقال عليه السلام: «للهُ أفرح بتوبة عبده المؤمن من رجل نزل في أرض مهلكة معه راحلته عليها طعامه وشرابه, فوضع رأسه فنام فاستيقظ وقد ذهبت, فطلبها حتى إذا اشتد عليه العطش أو ما شاء الله قال أرجع إلى مكاني الذي كنت فيه فأنام حتى أموت، فوضع رأسه على ساعده ليموت, فإذا راحلته عنده عليها زاده وشرابه, فالله أشد فرحا بتوبة العبد المؤمن من هذا براحلته» إه
Nabi SAW bersabda: “sungguh Alloh lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya yang beriman daripada seseorang yang singgah di suatu tempat … bersama kendaraan yang di atasnya terdapat makanan dan minuman (sebagai bekal). Kemudian orang tersebut meletakkan kepalanya, lalu tidur; kemudian ia bangun, (pada saat itu) kendaraan dan perbekalannya telah hilang. Lalu ia mencarinya, hingga ia merasa sangat haus, … ia berkata ‘aku akan kembali ke tempat tadi, lalu aku tidur (di tempat tersebut) hingga mati’. Lalu ia meletakkan kepala di atas lengannya agar ia mati (di tempat tersebut), tiba-tiba kendaraan beserta bekal dan minumannya hadir kembali di sisinya. Alloh lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya yang mukmin daripada (kegembiraan) orang tersebut dengan kendaraannya”.
 [Kifayah al-Atqiya, hal. 15]
Home